Minggu, 16 Maret 2014

BUDAYA KERJA DALAM PENDIDIKAN ISLAM



Dunia kerja memang dapat memberikan dampak yang sangat besar dalam kelangsungan sebuah pekerjaan. Berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan juga banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk di dalamnya adalah budaya kerja yang baik, akan dapat memberikan kontribusi efektif dalam pencapaian tujuan yang diharapkan. Untuk dapat mencapai suatu tujuan yang diinginkan, tentunya ada banyak langkah dan metode yang harus ditempuh. Metode dan langkah yang diambil sudah barang tentu harus mengacu serta berpedoman pada fungsi-fungsi dalam manajemen baik itu menyangkut perencanaan, pengorganisasian, aktifitas kegiatan/ pelaksanaan maupun pada tingkat pengawasan / control yang sangat efektif. Untuk dapat mengetahui budaya kerja yang efektif, kita akan mengawali pembahasan yang berkaitan dengan budaya kerja dalam persepektif pendidikan islam. Islam merupakan agama yang sangat Universal dan memberikan ruang yang luas bagi pemeluknya untuk mengaktualisasikan serta mengamalkan ajaran agamanya. Hal ini dapat dibuktikan dengan penjelasan yang terkandung di dalam Al Qur’an : “ masuklah ke dalam Islam secara sempurna … “ ( QS. Al Baqarah : 108 ) Di samping islam sebagai agama yang sempurna dan penuh rahmat bagi seluruh alam, islam juga memberikan banyak pedoman dalam seluruh aspek kehidupan yang menyertai kehidupan setiap insan beriman. Sebelum kelahiran kita ke dunia, barang kali di situ pula kita sudah mendapatkan bimbingan dan petunjuk untuk mendapatkan pendidikan secara islami. Sejak dalam kandungan, kita sudah diperintahkan untuk memberikan pendidikan sedini mungkin demi kelangsungan kelahiran seorang bayi secara sehat dan sempurna fisik maupun psykis, serta harapan - harapan lain dari sang ibu untuk mendapatkan anak yang sehat, cerdas dan berakhlaq mulia.

Selain dari itu, kita sudah diajarkan pula untuk memulai semua pekerjaan dengan bacaan basmalah, dan lain sebagainya yang menjadi aktifitas sehari – hari agar senantiasa memiliki nilai ibadah. Dengan demikian, apa yang kita lakukan akan mendapat keberkahan baik berkah dari sumber yang diterima maupun sisi pemanfaatannya benar - benar memberikan ketenangan di dalam hidup. Budaya merupakan aktifitas rutin yang membekas secara terus – menerus dan terbentuk pada diri seorang maupun kelompok orang dalam suatu komunitas tertentu. Sehingga, ketika hal ini berlaku dan tidak dilandasi dengan nilai-nilai islam, maka yang terjadi adalah sebuah budaya (kultur) yang menyimpang dan cenderung pada asumsi tertentu. Mungkinkah, kita menghendaki budaya yang demikian, apalagi bila terjadi pada sebuah pendidikan islam. Tentu kita tidak mengharapkannya. Marilah kita mencoba untuk melihat secara jauh, bagaimana islam menempatkan persoalan dalam setiap persoalan, artinya islam akan memberikan porsi suatu masalah sesuai dengan masalahnya. Budaya islam tentunya akan memberikan sesuatu yang berbeda dan membekas pada komunitas yang ada, sehingga harus bisa dikembangkan dan dilestarikan pada dunia pendidikan khususnya pendidikan islam, yang nota bene melabelkan islam sebagai identitasnya. Kita banyak mengetahui, tidak sedikit lembaga pendidikan yang melabelkan diri dengan islam, namun dalam perjalanannya justru tidak memberikan kontribusi terhadap nilai- nilai islam, bahkan yang tragis sekali lebih terbawa pada sebuah budaya luar yang cenderung dikembangkan. Semua ini, menjadi pengalaman dan pamandangan bagi kita untuk mampu mengembalikan sudut pandang kurang relevan ini kepada nilai-nilai yang tepat, yakni islam sebagai rujukannya. Budaya islam sangatlah tepat pada setiap zaman, untuk dijadikan pedoman dalam setiap aspek kehidupan, kapan dan di manapun kita berada. Apabila kita mampu mengubah dan melestarikan nilai-nilai yang sudah ditegaskan dalam islam, maka lambat laun, keharmonisan, keseimbangan, keadilan dan kesejahteraan serta kesetiaan (loyalitas) akan terbentuk dengan sendirinya sesuai harapan semua pihak.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda : “ …. Maukah kamu, aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kamu melakukannya akan saling mencintai ? sebarkanlah salam di antara kalian “ ( HR. Muslim) Melihat bunyi hadits di atas, kita akan bertanya pada diri kita ; “ sudahkah hal ini menyertai dalam lembaga yang kita tempati “. Ini sebuah pertanyaan yang harus mampu kita jawab secara arif dan bijaksana. Kadang kita takut, terhadap kebencian dari orang lain walaupun sebenarnya apa yang kita lakukan merupakan sikap yang harus diterapkan. Namun kita juga kadang berlebihan, walaupun sikap yang kita ambil adalah benar, tetapi langkah dan cara yang digunakan tidak bijaksana. Sehingga yang terjadi adalah ketidakseimbangan dalam komunikasi maupun hubungan yang tidak harmonis. Hal ini, islam telah memberikan pedoman kepada kita, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda : “ Barang siapa yang mencari ridlo Allah meskipun dengan kebencian manusia, maka Allah SWT akan mencukupkannya dari beban manusia “ (HR. At Tirmidi) Al Qur’an juga menjelaskan ; “ Sampaikanlah (manusia) kepada jalan Tuhanmu, dengan hikmah dan dengan perkataan yang baik serta jegahlah dengan cara yang baik pula …(QS. An Nahl : 125) Mendasari pada ayat di atas, sudah sangatlah jelas bahwa di dalam kita berinteraksi dengan yang lain, ada banyak petunjuk yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebaikan di antaranya. Namun demikian, kita sering membuat cara (metode) atau budaya yang didasarkan atas kemauan dan hawa nafsunya sendiri sehingga jauh dari kebaikan. Sebagai contoh, kita butuh situasi menjadi baik, nyaman, harmonis dalam komunikasi, ketenangan dan lain sebagainya. Akan tetapi, kadang kita sendiri, yang menciptakan kitidaknyamanan dalam komunikasi serta situasi yang kurang menyenangkan. Di mana letak kesalahan sebenarnya ?, Tentu bisa disimpulkan, karena tidak merujuk pada budaya islam yang sudah digariskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Cara yang digunakan kurang hikmah, terlalu terburu – buru dengan keinginan kita, tidak bijaksana, perkataan yang disampaikan cenderung bernuansa emosi tanpa kesantunan maupun penuh rahmah dan ketika mencegahpun tidak mengarah pada tujuan kebaikan melainkan berhentinya kejelekan secara sesaat. Oleh karena itu, mari kita bersama – sama untuk merenungkan situasi dan kondisi yang semacam ini sebagai evaluasi diri kita masing - masing. Masihkah ada di antara lingkungan kita ? atau bahkan memang berjalan budaya yang semacam ini. Kita selalu berharap kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan kemampuan dan kesabaran di dalam kita melakukan amar ma’ruf nahi munkar, serta menciptakan budaya yang tepat sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan selalu dalam ridlo Nya, amin. Kesimpulannya adalah agar kita selalu mengedapankan petunjuk - petunjuk yang telah jelaskan di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah dibandingkan dengan hawa nafsu belaka sehingga tidak aka ada kebaikan di dalamnya. Selain dari itu, sebaik apapun budaya yang dikembangkan selama menyelisihi ketentuan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, maka tidak dapat dijadikan rujukan untuk dilestarikan. Akan tetapi, relevan atau tidak (menurut ukuran umum) apabila bersumber dari Al qur’an dan As Sunnah, maka harus tetap kita budayakan dan dipertahankan untuk menjadi sebuah budaya.(pen.albert’s.2010)

PENTINGNYA NUTRISI PADA ANAK BALITA



Mengapa gizi yang baik sangat penting bagi balita? Gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting dalam mewujudkan manusia yang berkualitas. Usia balita merupakan usia yang rawan, karena pertumbuhan pada usia balita sangat menentukan perkembangan fisik dan mental anak di usia remaja dan keberhasilan di saat dewasa. Untuk itu makanan yang bergizi sangat penting bagi pertumbuhan sel otak yang merupakan dasar kecerdasannya. Pertumbuhan sel otak yang sangat cepat dan intensif berlangsung sejak bayi dalam kandungan sampai usia kurang lebih dua tahun dan selanjutnya terus berkembang hingga usia 3 – 4 tahun dengan kecepatan yang sudah berkurang bila dibandingkan dengan sebelumnya.

POLA MAKAN SEHAT UNTUK BAYI 0 – 6 BULAN

Berikan pada bayi 0 – 6 bulan HANYA Air Susu Ibu (ASI), jangan memberikan makanan lainnya karena perut bayi belum cukup kuat mencerna makanan tambahan. Gizi dari ASI sud a h mencukupi kebutuhan bayi !! ASI yang pertama keluar sangat bermanfaat bagi kekebalan tubuh bayi. Oleh sebab itu sebaiknya 30 menit setelah dilahirkan, bayi diberikan ASI. Bila mengalami kesulitan minta petugas kesehatan untuk membantu. Jangan membuang ASI pertama yang berwarna kekuningan karena mengandung zat gizi dan zat kekebalan yang sangat diperlukan bayi. Berikan ASI sesuai keinginan bayi (sedikitnya 8 kali selama sehari semalam) Sejak usia 6 bulan, bayi dapat dikenalkan dengan makanan pendamping ASI berupa makanan lumat, seperti bubur susu, bubur tepung atau pisang. Perlu diingat dalam memberikan makanan pendamping ASI: - ASI harus lebih diutamakan, sehingga - Berikan ASI lebih dahulu - Berikan ASI sesering dan sebanyak yang diinginkan bayi/balita - Sesudah prinsip 1-3 di atas dipenuhi, berilah makanan pendamping ASI, dalam porsi kecil-kecil Makanan pendamping ASI pada usia 6 – 9 bulan sebaiknya diberikan 2 kali sehari

POLA MAKAN SEHAT UNTUK BAYI 6 – 12 BULAN

Sejak anak berusia 6 bulan, makanan lumat lainnya dapat diperkenalkan seperti bubur nasi, bubur ayam. Tambahkan dalam makanan lumat ini sayuran dan lauk. Pada usia 7 – 9 bulan, makanan pendamping ASI berupa makanan lembek sebaiknya diberikan 3 kali sehari Sejak usia 9 bulan, dapat diperkenalkan makanan lembek, seperti nasi tim campur sayur-sayuran dan lauk. Pada usia 9 – 12 bulan, makanan pendamping ASI yang berupa makanan lembek sebaiknya diberikan 3 kali sehari. Tambahkan pada menu bayi buah atau sari buah (jeruk, pepaya, pisang dll).

POLA MAKAN SEHAT UNTUK BAYI 12 – 24 BULAN

Tetap berikan ASI sesuai dengan keinginan anak sampai berusia 2 tahun Sejak usia 1 tahun anak dapat diperkenalkan pada makanan seperti makanan orang dewasa, berupa nasi lembek, sayur, lauk dan buah Pada usia 1 – 2 t a h u n, makanan pendamping yang berupa makanan orang dewasa tersebut sebaiknya diberikan minimal 3 kali sehari Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari (diantara waktu makan pagi dan siang serta diantara makan siang dan sore/malam), seperti bubur kacang hijau, buah-buahan, biskuit, nagasari, kue. Ingat makanan selingan bukanlah makanan jajanan, seperti kerupuk, chiki atau permen Pada usia 1 – 2 tahun anak dilatih untuk makan makanan yang lebih bervariasi. Semakin bertambah umur anak makanan yang diberikan dapat semakin keras seperti layaknya makanan yang dimakan oleh orang dewasa.

POLA MAKAN SEHAT UNTUK BAYI 24 BULAN ATAU LEBIH

Sejak usia 2 tahun anak anak sudah bisa makan makanan orang dewasa berupa nasi, sayur, lauk, serta buah dan sebaiknya diberikan minimal sebanyak 3 kali sehari Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari Sejak usia 2 tahun makan yang diberikan harus lebih bervariasi Bila sudah tidak minum ASI, susu perlu ditambahkan kedalam menu sehari-hari anak

Bagaimana dengan makanan selingan?

Pada uraian diatas disampaikan adanya makanan selingan. Makanan selingan mempunyai peranan penting, terutama bila anak tidak cukup mengkonsumsi seluruh porsi dari makanan utamanya, seperti makan pagi, siang dan malam. Tapi terkadang ibu–ibu cenderung memberikan makanan selingan berlebih pada anaknya sehingga nafsu makan pada saat makan (makanan utama) menurun. Pilihlah makanan selingan yang bergizi, seperti kue-kue, buah-buahan yang sudah diolah ataupun makanan jadi dari bahan-bahan yang bergizi (contoh: kolak pisang, bubur kacang hijau dll). Pemberian makanan selingan diberikan hanya pada waktu antara makan pagi dan makan siang (Jam 09.00–10.00) atau di antara makan siang dan makan malam (jam 15.00–16.00).